Being Common; Anti Mainstream

Kini, yang anti-mainstream, nampaknya sudah jadi mainstream, kalau memang benar ia “anti main-stream” maka anti mainstream yg ia bawa, yg sudah jadi mainstream sekarang harusnya di kritisi, kalau tidak. Maka benarlah pepatah lama yg mengatakan, seorang anti korupsi yg berkoar-koar di pinggir jalan itu, pada dasarnya mereka cuma “gak kebagian” saja, kalau kebagian? pasti diam. Birokrasi baru, hipokrisi baru, nampaknya iya, lebih sulit bersikap sederhana di tengah kelimpahan materi, ketimbang sederhana di tengah kesulitan materi.

Dulu, orang berbondong-bondong pengen beda, being different is not easy, kini, semua orang sudah bener pada beda! Bahkan mungkin sudah sampai pada titik aneh yang terlalu aneh. Beda yang tidak bercitarasa. Beda yang di ada-adain, mungkin sudah saatnya kini, bukan being different lagi, tapi being common!

nasehatin orang mesti serius, itu mainstream, anti-mainstream, nasehatin orang itu mesti pake teknik, humor, satire, komedi, penyampaian karikaturis adalah salah satu teknik yg ampuh untuk menyampaikan pesan, biar orang itu gak kerasa sedang dinasehatin, moral menyelundup dalam hal yg banal, tapi kini, itu sudah jadi mainstream, semua orang berhenti pada humor, pada hal-hal yg konyol, bahkan menolak dan lupa mengapa ia bicara konyol. Kinilah kita lagi merayakan kekonyolan. Kekonyolan, yg mungkin ada isi, tapi kita tolak isinya, karena kayaknya lebih seru konyolnya ketimbang isi. Kita beralih pada kehidupan yg konyol nan seru. Terbekatilah.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s