Doraemon, Stand By Me (2014)

Yang pertama kali saya ingat ketika mendengar judulnya adalah lagu Oasis yang berjudul sama, Stand by Me. Saya kira memang tidak ada hubungannya, antara Oasis dengan Doraemon, kesamaan judul itu hanya kebetulan belaka. Pun ketika heboh muncul film tersebut, tak ada ketertarikan saya untuk menontonnya.

Saya tertarik menontonnya hanya karena adik saya sudah punya film itu, jadi tidak ada ruginya untuk menonton, pikir saya. Saya lebih tertarik lagi ketika bahwa dalam film tersebut diceritakan bagaimana awal mula doraemon bersama nobita, itu yang menarik perhatian saya. Awal mula doraemon bersama nobita. Bagaimana?

Pertanyaan itu, tidak pernah ada ketika saya masih kecil. Saya mendapati kesadaran bahwa saya sebagai anak kecil rupanya selalu mendapatkan diri secara a historis, tercerabut dari sejarah. Ketika kecil, saya tidak terlalu memedulikan bagaimana doraemon datang bersama nobita? Apa tidak aneh orang-orang sekitar dengan kedatangan doraemon, kucing yang yang bisa bicara? Atau anak kecil yang lebih mirip dengan kucing? Asal usul ternyata hanyalah milik orang dewasa, anak kecil tak peduli itu, setidaknya buat saya ketika masih kecil, yang dipedulikan, adalah imajinasi, hal keren diluar kebiasaan. Dan itu menarik! Pintu ajaib, baling-baling bambu! Bagaimana benda-benda itu menyihir imajinasi saya, bahkan kebawa mimpi.

Setelah itu, ingatan saya terlempar jauh beberapa tahun ke belakang, ketika pertama kali menonton serial doraemon pertama kali di tv tetangga, karena tv di rumah saya masih hitam putih dan tak ada tayangan lain selain TVRI (saya masih ingat persis ditayangkan jam 8 pagi itu sampai sekarang! di RCTI, tak ada stasiun tv lain yang menayangkannya).

Semua kenangan itu seakan ada di depan mata, saya seperti di ajak masuk ke lorong waktu. Namun harapan saya terlalu berlebihan rupanya, dalam film itu, memang di ceritakan bagaimana awal doraemon datang bersama nobita, bahwa nobita masa depan jatuh sengsara hanya karena nobita dulu tidak rajin, sengsara dan tidak bahagia. Tapi sayang, penggambarannya tidak terlalu detail.

Bagaimana doraemon tinggal di rumah nobita pun, seakan begitu mudah, ayah ibu nobita tidak merasa terkejut dengan keberadaan doraemon, termasuk teman-teman nobita pun sama, mereka langsung begitu saja kenal dengan doraemon.

Dan yang paling jadi mimpi buruk, setidaknya bagi saya, cerita doraemon kali ini hanya berkutat bagaimana nobita bisa menikah dengan shizuka, oh ya, mungkin dengan asumsi misi doraemon adalah membuat nobita bahagia, dan salah satu faktor yang menyebabkan nobita bahagia menikah dengan shizuka, mungkin karena itulah doraemon mati-matian berjuang agar di masa depan nobita bisa menikah dengan shizuka, bukan dengan giko (adiknya giant), i see. 

Sedikit kecewa setelah menonton film ini, tapi kekecewaan itu kesalahan saya, karena saya menontonnya dengan membawa-bawa kepala orang dewasa, tidak sebagaimana dulu saya melihat semua yang dilakukan doraemon adalah keajaiban.

Ya ini murni kesalahan saya, lain kali bila anda, yang belum nonton, berniat menontonya. Jangan ulangi kesalahan saya. Nikmatilah. Filmnya bagus kok, apalagi gambarnya. Saya masih ingat bagimana tampilan depan rumah nobita, bahkan dengan menutup mata!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s