Divergent Trilogy

Saya tidak akan berbohong, saya kurang menikmati menonton Insurgent, bila di bandingkan dengan Divergent. Entahlah, mungkin ekpektasi saya terlalu berlebihan terhadap film Insurgent, mengingat film pertamanya sangat membuat saya terpukau. Belum, saya belum tahu kalau kedua film itu adalah adaptasi dari novel, dan setelah saya cari tahu, kemungkinan besar, bakal ada film selanjutnya yang berjudul Allegiant. Tahu saja belum, apalagi membacanya bukan?

Apalah yang saya ketahui tentang dunia perfilman selain menonton, dan memberikan penilaian yang semena-mena? hehe. Jadi, pendapat saya kalau film Insurgent tidak menarik, jangan terlalu di hiraukan, mungkin hanya dikarenakan saya membutuhkan film yang lebih berbobot dramanya, ya kala itu saya sedang bosan, lack, saya sedang mencari-cari quote sederhana dari film yang bisa membangkitkan gairah saya. Gairah dalam apa? Hidup. 

Dan Insurgent, gagal memuaskan saya. Tapi, beda cerita, bila saya sedang ingin menikmati, sebuah film action, bak bik buk, tanpa ada pretensi filosofis yang terlalu berat. Insurgent saya kira bakal cukup. Saya kira ini penting, pra-persepsi Anda ketika menonton sebuah film menentukan bagaimana Anda merespon film tersebut. Bisa jadi film itu bagus, tapi karena suasana hati Anda sedang buruk, Anda bakal bilang, film itu membosankan!

Maka, penilaian objektif sangat penting, dan menurut rating IMDB, Insurgent (6.5) memang di bawah Divergent (6.8). Cek saja sendiri. Saya sedikit mengulangi, film Divergent, malah untuk menulis review bajingan ini, hanya sekedar untuk mengembalikan ingatan dan mood yang kurang baik terhadap Insurgent.

Divergent. Sudah pasti seru. Anda juga sudah pasti tahu bagaimana keseruannya, bagi yang sudah menonton tentunya. Bagi yang belum. Anda harus menonton untuk tahu keseruannya.

Saya pikir ini visualisasi yang sangat radikal mengenai tipe-tipe manusia, bagaimana tidak, dalam film ini di gambarkan ada beberapa faksi, dan tipe itu sangat kentara dan nyata dalam menjalani kehidupan mereka; hanya saja, satu faksi dengan faksi lain, digambarkan dengan sangat prontal, mereka tidak bisa menyebrang menjadi faksi yang lain, bila majelis sudah menetapkan kamu faksi Erudite, maka kamu tidak boleh jadi Dauntless.

Coba anda bayangkan bila, memang benar dalam kehidupan kita berjalan seperti itu. Ya, saya pikir, kengerian yang ada di dalam film inilah yang bakal terjadi. Tapi misteriusnya, tidak. Mungkin, inilah fungsi imajinasi dan film salah satu proyeksinya, bahwa dengannya kita jadi bisa memami apa yang akan terjadi, sekalipun kita belum menjalaninya, ada fungsi logis di sana. Akal. Karunia Tuhan yang sangat luarbiasa yang diberikan pada manusia. Free Will. Ya saya pikir, film ini berbicara tentang ini.

Dan Insurgent, hmmm saya pikir, saya harus menontonya sekali lagi, untuk mendapatkan apa yang mesti saya tuliskan. Insurgent memang bagus, tapi saya belum menemukan disebelah mana letak kebagusannya, mungkin karena Pra-Persepsi yang tadi saya ucapkan. Lain kali saya tulis lagi, bila sempat. Untuk sementara cukup sekian.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s